Saturday, May 16, 2020

NYOBAIN CARA BARU CARI DUIT | GOOGLE ADSENSE

NYOBAIN CARA BARU CARI DUIT | GOOGLE ADSENSE

Saat ini dunia teknologi berkembang dengan cepat. Lebih cepat dari dari pada nungguin bedug magrib pas puasa gini. Perkembangan teknologi datang bersama perubahan di berbagai bidang. Contoh, dulu mau naik ojek harus ke pangkalan, sekarang tinggal pencet dianya yang nyamperin. Yang namanya orang kerja dan dapet gaji, itu harus berangkat pagi ke kantor, atau paling nggak keluar dari rumah sebelum jam 8.  Dengan teknologi yang ada, 3 tahun belakangan saya sangat enjoy kerja dari rumah sebagai seorang freelancer. Karena saya termasuk orang yang introvert, kerja dari rumah tidak mengganggu saya secara psikologis. Bahkan, saya merasa lebih nyaman. Saya bisa mulai kerja pagi, siang, sore patokannya cuma dedline tanggal dan idealisme kerjaan -mau dibikin sebaik apa hasilnya-. Dengan teknologi juga, saya sangat terbantu saat saya ke Banjarmasin, tempat yang baru sama sekali, desclaimer: masih terjangkau internet. Tahun 2020 ini pasti kita semua mulai menyadari ke-serbaonline-an ini. Bahkan sangat sadar sampai mulai nyari-nyari apa sih peluang yang bisa diambil. Anak-anak generasi alpha -mereka yang lahir setelah tahun 2010- ketika ditanya cita-cita pun maunya jadi youtuber, influencer. Padahal mungkin sebagian generasi milenial tidak menganggap ini sebagai pekerjaan karena dianggap tidak menghasilkan. Kenyataannya mereka yang menjadikan hobi nge-youtube sebagai pekerjaan menerima penghargaan yang lebih dari indah dengan kerja kerasnya nyari 1000 subscriber dan 4000 jam tayangnya. Well, nyari duitpun sekarang sudah online.
Sebagian dari kita mungkin sudah familiar ya dengan Google Adsense. Itu loh yang bisa earn money dengan website monetization. Banyak yang penasaran dan nyobain tapi karena tidak konsisten akhirnya mandeg. Tapi banyak juga yang berusaha konsisten dan dapat hasil dari Google Adsense. Saya termasuk yang penasaran dan nyobain. Saya mencoba untuk memonetisasi blog ini, dengan menautkan laman blog ke  Google Adsense.
Pertama otak-atik pengaturan ini itu di blog, udah kesel sendiri, soalnya pas diklik Earning eh nggak mau muncul apa-apa. Nyerah duluan nggak tuh. 

Padahal harusnya tampilan yang muncul begini.

Habis gini udah, searching-searching dulu nih kenapa, apa penyebabnya. Karena mau dicoba klik ratusan kali pun sama aja - nggak mau muncul apa-apa. Terpakailah ilmu Stoa dari buku Filosofi Teras kemarin. Siap-siap aja, kalau memang tidak bisa ya nggak kecewa2 amat. Setelah hari berganti, ternyata ketemu penyebabnya. Mirip dengan pengaturan pembayaran PayPal yang nggak mau muncul saat mata uangnya masih IDR. Yess, settingan Bahasa. Tampilan earningnya tidak muncul karena setting bahasanya masih Indonesia. Sehingga harus diganti dengan bahasa internasional -di sini saya pilih United States- supaya tampilan Earning (Penghasilan) muncul. Kenapa tampilan ini harus banget muncul? Karena di sinilah nanti kita bisa menautkan laman dengan akun Google Adsense. Akhirnya muncul juga setelah diseting sedemikian rupa.



Setelah ditautkan laman ke akun Google Adsensenya, di akun Google Adsense akan ditampilkan pemberitahuan bahwa laman saat ini sedang ditinjau, butuh beberapa hari, bahkan mungkin 2 minggu, dah tungguin aja kata dia.


Sementara di laman blog Ketika di klik Earning (Penghasilan) tampilannya akan seperti ini.

Beberapa hari setelah pengajuan ini, dapat email dari Google Adsense. Wiiiih cepet ya ternyata ngga nyampe 2 minggu kok. Nah kalua gini kan jadi semangat, ya ngga sih. Kalau kita ngelakuin sesuatu yang baru, apalagi ada tantangan buat kita eh berhasil itu kan hormone endorphin naik sejadi-jadinya, asli jadi ketagihan buat nyobain yang baru lagi, oh jadi gitu ceritanya drama ditinggal pas lagi sayang-sayangnya itu terjadi. Hahaha.


E.. tapi.. tapi kok begini isi emailnya. Oke, bhaiiiiq, sekarang cari tahu kenapa something need to fix lewat akun Google Adsense.
Apakah benar ini semua karena sang COVID-19, atau karena memang ada sesuatu yang belum sesuai. Kita tunggu aja beberapa hari kedepan. Karena saat ini sudah pengajuan yang kedua. Hari ini udah hari ke-3  setelah pengajuan kedua. Pantau.
Continue reading NYOBAIN CARA BARU CARI DUIT | GOOGLE ADSENSE

Friday, May 1, 2020

Mengisolasi Diri (Part 1)

Mengisolasi Diri (Part 1)


Kala itu saya menjalin hubungan dengan seorang teman, kami pacaran. Beberapa waktu berlalu, saya melihat fakta bahwa saya pacaran dengan seorang yang --kau sebut apa untuk cinta pertamamu?-- Secara fisik dia tampan, tinggi badannya mengharuskan saya menengadah sekedar untuk menatap wajahnya. Masih tergambar dengan baik, ya dia berkharisma, katakanlah begitu. Merurut saya, kala itu. Humble, agak slengekan tapi asyik. Saya pertaruhkan sepenuh hati saya untuk laki-laki ini. Masa putih abu selalu bisa menghanyutkan kita pada kerinduan yang mengalir begitu deras tanpa muara. Haaah, hela nafas dulu lah.

Ribuan hari yang sudah kami lewati bersama, ternyata mampu membuat saya benar-benar merasa tak sanggup tanpanya. Ada bayangan, akan sehancur itu, jika nanti akan ada hari tanpa dia--kala itu.

Desau angin bulan Oktober, seakan memberi isyarat. Bahwa dia yang di sana menemukan telinga lain untuk berbisik. Tak apa, hanya firasat, belum tentu benar. Namun, satu persatu suara terdengar jelas. Huruf demi huruf terangkai bercerita tentang dia yang di sana. Mata ini basah karenanya. Jeritan yang tertahan di kerongkongan. Langkah yang terbatas jarak. Membuat saya benar benar berada dalam kenyataan atas apa yang pernah terbayang. Ya, we were done.

Diri saya yang kala itu memutuskan pacaran, sama sekali tidak memiliki bekal apapun kecuali kemampuan untuk menangis. Jadi, tidak tau harus apa ketika rasa kecewa itu tak lagi sanggup diangkat di atas kepala pun dipikul di pundak. Saya tidak siap untuk sakit hati.

Awalnya saya mencoba untuk biasa saja. Tanpa hasil. Hingga akhir dari perjuangan mencoba biasa saja ini adalah memutuskan untuk mengatakan tidak, bahkan sekadar mendengar nama. Semua akses sosial media, blokir. Semua kontak, hapus. Gift, bakar. Barang yang kiranya berharga saya kembalikan. Bahkan ketika teman-teman satu angkatan membuat grup whatsapp, saya memilih untuk leave grup setiap kali ada yang invite untuk masuk. Saya menjadi antipati terhadap semua hal tentang dia.

Antipati yang saya lakukan ini sangat salah, sangat salah. Yang membuat saya sadar waktu itu adalah kalimat ini “Kamu tidak akan merasa kehilangan, jika kamu tidak merasa memiliki”. Mendengar kalimat ini seperti tersadar dari lamunan. Ya, siapa saya. Sikap yang saya tampakkan selama ini adalah wujud kekecewaan, karna tidak lagi memiliki. Bagaimana bisa dia menjadi milik saya, sedang Tuhan pemilik segalanya. Bagaimana mungkin saya menarik kembali hatinya, sedang Tuhanlah yang Maha membolakbalikkan hati. Bagaimana mungkin saya berharap terus bersamanya, sedang Tuhanlah yang berkuasa atas hidup dan mati. Kalimat ini membuat saya akhirnya melepaskan sedikit demi sedikit kekecewaan itu.

Sebesar apapun kekecewaan yang saya tampakkan, ketika saya menyadarinya, saya lantas menertawakan diri sendiri. Waktu kembali memuaskan saya dengan satu kutipan: “Dahan yang dipotong dari dahan sebelahnya juga terputus dari pohon keseluruhan. Begitu juga manusia yang terpisahkan dari manusia lain juga terputus dari masyarakat keseluruhan. Dahan pohon dipatahkan oleh orang lain, tetapi manusia mematahkan diri mereka sendiri --melalui kebencian dan penolakan-- dan tidak menyadari bahwa mereka telah memotong diri mereka dari seluruh masyarakat. Kita memang bisa melekatkan lagi menjadi bagian dari keseluruhan. Akan tetapi, jika kita memotong diri terlalu sering,maka akan makin sulit untuk melekatkan diri kembali. Kamu bisa melihat perbedaan antara dahan yang selalu tumbuh di sebuah pohon , dan dahan yang sudah pernah dipotong dan dilekatkan kembali.” --Marcus Aurelius (Meditation). Ya benar, saya mematahkan diri dengan kebencian dan penolakan itu. Tanpa disadari saya pun memutus kontak dengan orang lain, dengan teman-teman, yang seharusnya itu tidak perlu saya lakukan. Entah kesempatan apa saja yang akhirnya saya lewatkan akibat antipati ini. Hal yang membuat saya semakin terpuruk hari itu bukan karna dia ninggalin saya, tapi reaksi saya yang salah, karena ketidaktahuan dan ketidaksiapan.


The end of part 1



referensi:
The Subtle Art of Not Giving a F*ck, Mark Manson
Filosofi Teras, Henry Manampiring

Continue reading Mengisolasi Diri (Part 1)

Sunday, September 1, 2019

WHAT I REALIZED IS


Dua bulan off posting blog. Karena ngga ada draft tulisan yang selesai satupun. Bulan Juli lalu saya mengawali karir sebagai seorang guru madrasah. Cerita versi suami bisa diklik di sini.

Kembali menjadi warga sekolah, membuat saya teringat kebiasaan saya saat masih berseragam putih merah. Hampir setiap hari Sabtu saya dan kakak biasanya menginap di rumah nenek. Pulang Minggu pagi. Jarak rumah beliau dengan rumah yang kami tinggali kira-kira 5 km. Jalanannya masih tanah. Embun rerumputan mix butiran debu membuat sandal kami licin tanpa digosok. Kadang kami memilih bagian jalan yang sudah limit1[1] jika malas kena embun, dingin. Kalau musim hujan, jalanan becek, kami memilih lepas sendal. Dari pada putus di tengah jalan. Jalanan tanah di musim hujan itu bikin sandal susah move on. Dari pada susah kan mending nggak usah. Kalau ada sepeda atau sepeda motor yang akan lewat di jalan selebar kira-kira 2 meter itu, kami akan minggir, bukan mundur.

Nyo, ki nggo cah loro, nggo sangu sekolah sesuk.”2[2] Kalimat itu terdengar merdu sekali. (Semoga mbah putri sehat selalu). Yang menyenangkan ketika pulang dari rumah nenek, biasanya kami diberi uang saku, kadang 1 ribu, kadang 2 ribu, untuk berdua.

Seingat saya nasi buatan Bu Basirah itu dulu harganya 2 ratus rupiah satu bungkus. Saya selalu menikmati kesempatan jajan itu. Karena mungkin hanya ada satu atau dua kesempatan dalam satu minggu. Selebihnya ibu saya selalu membuat saya sarapan di rumah, dan membawakan bekal untuk makan di sekolah. Sweet banget. Setelah saya menikah baru saya sadar, apa yang dilakukan ibu saya itu adalah perjuangan. Melawan ngantuk, memecahkan persoalan besok anakku sarapan apa, bekal apa. Dan bumbu keikhlasannya itu membuat masakan ibu menjadi yang paling enak.

Time flies. Memasuki masa-masa sibuk SMP dengan pilihan eskul. Waktu di sekolah semakin lama. Jeda waktu pulang sekolah dan eskul yang hanya sekitar 1 jam itu, kadang membuat saya berpikir enak kali ya bisa jajan di kantin. Nggak usah bawa bekal, berat. Setelah ada kesempatan untuk jajan di kantin kalau ibu lagi nggak sempat masak, timbul rasa tidak nyaman. Karena harus buru-buru, berebut, berdesakan pesan ke ibu kantin. Kadang sudah pesan tapi keserobot yang lain. Dan akhirnya setelah dapat yang dipesan nggak bisa menikmati makanan. Karena sudah capek ngantri, ndongkol diserobot, waktu jedanya tinggal dikit.

Dari sinilah awal mula ketaksukaan beli makan/belanja ditempat rame yang harus desak-desakan, ngantri tapi srobot-srobotan, apalagi kalau penjualnya budeg, suara keras yang dilayanin duluan. Serius ogah. Dari pada strok.

Maka dari itu dengan adanya layanan pesan antar seperti G*food atau G***food, saya sangat-sangat merasa terbantu. Untuk urusan makanan. Saya merasa selama ongkos antar wajar, sesuai budget, saya memilih bayar dari pada saya sendiri yang mengantri. Waktu yang dipakai untuk jalan menuju tempat makan dan mengantri, menunggu pesanan dibuat, bisa kita pakai untuk urusan yang lain. Lagi-lagi ini tentang pilihan masing-masing orang. Karena setiap orang punya preferensi.

Di sisi lain, kembali bekerja after married membuat saya tau alasan mendasar kenapa teman-teman saya dulu ketika sekolah diberikan uang saku (banyak). Tidak lain adalah tanggung jawab orang tua mereka untuk memenuhi kebutuhan primer sang anak, pangan. Memastikan mereka tak kurang satu apapun. Pastinya syarat dan ketentuan berlaku; jangan boros, jangan jajan aneh-aneh, jangan ini, jangan itu dan jangan yang lain-lain. 

Inilah yang saya sadari, setiap orang tua memiliki cara mereka sendiri untuk menyayangi anaknya. Memastikan terpenuhi semua kebutuhannya. Memastikan segalanya terpenuhi dengan layak. Memastikan anak tak kering akan harapan dan doa. Karena setiap tetes keringat dan air mata mereka tak lain adalah untuk kita, anaknya.



Doc:  anggadiandry



[1] Jalanan tanah yang tak lagi ditumbuhi rumput karena sering dilewati

[2] “Ini untuk kalian berdua, untuk uang saku sekolah”
Continue reading WHAT I REALIZED IS

Friday, June 28, 2019

MAKSUDKU NGGAK GITU


MAKSUDKU NGGAK GITU

Masalah abg –a-be-ge- cewe biasanya dimulai ketika dia sadar akan eksistensi dirinya. Keberadaan dirinya di lingkaran pertemanan; di hadapan teman tapi nyaman, gebetan, pacar, kakak kelas cantik #saingan, atau anak temen papa yang gantengnya masyaAllah. Muncullah pikiran bahwa semua harus tampak sempuna. Harus jadi pribadi menyenangkan, easy going, good looking. Pipi tirus, kaki jenjang, kulit putih mulus, tinggi semampai, nggemesin, otak encer.

Saya pernah ngerasain berada di umur 15 tahun, dimana saya mulai memperhatikan fisik. Saya lihat dikaca, saya ini kalau dalam kondisi biasa, nggak senyum dan nggak marah, kok mukanya keliatan kayak orang cemberut, sombong dan nyebelin. PADAHAL MAKSUD DAN MAU SAYA NGGAK GITU. Sorry capslocknya nyala. Sementara temen-temen cewek saya, ketika mukanya biasa aja, kalau dilihat  meninggalkan kesan ramah, membuat jatuh hati, karena kelihatan kayak lagi senyum.

Waktu itu kebetulan masuk SMK kelas X ikut tonti, diajarin senyum. Supaya tetap kelihatan ceria dan semangat meskipun badan capek luar biasa. Diajarinnya begini, kaitkan (gigi depan bawah) ke depan (gigi depan atas). Tarik bibir kanan satu cm dan bibir kiri satu cm. Coba ngaca! Pegel. Nggak bertahan lama. Perasaan iri itu masih tetap ada. Jadi gimana, ya masih tetep nggak ada solusi.

Time lapse, sekarang ceritanya udah kuliah semester 3. Ternyata dengan muka yang kelihatan kayak orang cemberut, sombong dan nyebelin ini ada yang mau jadiin saya pacar. Jadian, LDR, banyak masalah, putus. Oh God. Kejadiannya nggak sesimpel itu. Waktu itu saya sering mempertanyakan, apa sih kurangnya saya? Bodo banget, banyaklah. Si doi bilang, “Kamu ngga kurang. Kamu terlalu sempurna untukku, kamu pantas mendapatkan yang lebih dari aku”. Siapa yang pernah jawab gini? Kamu jahat. Bilang aja kurangnya apa, letak salahnya di mana. Itu lebih laki.

Jawaban itu membuat saya merasa semakin terpuruk. Semakin merasa buruk. Apalagi ada pembandingnya, yang jelas muka selebgram, badan SPG. Nangis 😭. Baiklah. Saya mulai cari solusi, yes, peninggi badan. Gara-gara ini saya jadi ikut MLM. Setelah menghabiskan produk senilai kurang lebih 1,2 juta tinggi badan saya nambah, 3 cm. Pun nggak merubah apa-apa, masih aja tetep keliatan pendek gitu loh. Emang dasarnya. Tapi kegiatan jual beli di MLM ini lumayan menguntungkan. Akhirnya saya bisa beli wedges, baju baru, facial, beli krim siang & malam. Pake duit sendiri. Itu menyenangkan. Selain itu pengembangan diri di MLM membuat saya lebih banyak bersosialisasi. Untung putus, haha. Mungkin akan saya ceritakan perjalanan MLM ini di postingan selanjutnya.

Doc. pribadi, join MLM (dua dari kiri) 2015

Saya sudah pakai nih peninggi badan, wedges, baju yang lebih enak diliat, udah juga perawatan. Si doi nggak balik. Setelah si doi nggak ada tanda-tanda untuk balik, maka saya mencoba untuk mengesampingkan ingatan-ingatan tentang itu. Yang saya lakukan adalah menyibukkan diri jualan, kerja, berpasrah pada Tuhan dan menyelesaikan kuliah. Tentunya dengan kekuatan doa orang tua, juga dukungan banyak teman. Akhir cerita, saya pun hadir dalam acara resepsi pernikahannya, pertengahan 2017 lalu. Alhamdulillah.

Doc. pribadi, (belakang enam dari kiri) 2016

Saya merekomendasikan buku “Berpikir dan Berjiwa Besar” terjemahan “The Magic of Thingking Big” karya David J. Schwartz, dari buku ini saya memahami ketidakkembaliannya si doi, dan saya pun tidak menginginkan itu lagi. Butuh waktu lama, and it won’t be easy. Hikmah yang saya ambil dari my own story ini, saya temukan di vidio youtube Gita Savitri Devi, “Why I Stopped Photoshopping My Face”. Mengejar kesempurnaan bentuk fisik akan membuat saya kelelahan. Dan nggak akan terjadi. Saya harus menerima apapun kondisi saya dilahirkan. Yang mukanya keliatan kayak orang cemberut, sombong dan nyebelin ini. Yang pendek ini. I have to love it. Karena ini pemberian terbaik dari Tuhan. Daripada menghabiskan waktu untuk memikirkan kesempurnaan yang jauh dari jangkauan, ternyata ada banyak hal bermanfaat yang bisa dilakuin.

Ini cerita pertama tentang self acceptance, nanti bakal ada cerita lanjutan. Terimakasih, semoga bermanfaat.

Continue reading MAKSUDKU NGGAK GITU

Thursday, May 30, 2019

BELAJAR DARI PUTRI JEPARA


BELAJAR DARI PUTRI JEPARA


https://media.karousell.com/media/photos/products/2018/05/10/panggil_aku_kartini_saja_1525918498_fac2ac7e.jpg

Kutipan di bawah ini saya ambil dari buku Panggil Aku Kartini Saja­  ̶ ditulis oleh Pramoedya Ananta Toer. Buku ini terdiri dari 4 jilid. Dua diantaranya   ̶ jilid III dan IV ̶  hilang akibat vandalisme 13 Oktober 1965. Saat ini jilid I dan II diterbitkan oleh Lentera Dipantara dalam satu buku  ̶ Panggil Aku Kartini Saja­.

Surat Kartini kepada Nyonya Abendanon, 10 Juni 1902.

Dan mengapakah kami merasa perlu tinggal untuk sementara waktu di Eropa? Ialah untuk membebaskan diri kami dari pengaruh-pengaruh mengganggu yang diberikan oleh pendidikan Pribumi, yang tidak dapat kami hindarkan ini!
Orang-orang Eropa yang paling asing pun, sekalipun sebanyak satu batalyon, kata dik R., tak gentar kami menemuinya; terhadap seorang Jawa yang tak kami kenal, seorang saja, larilah kami bersembunyi seperti siput di dalam kepompong kami.
                Kami hendak bebaskan diri  kami sama sekali dari ikatan-ikatan yang melekat adat kuno kami yang mau lekat saja ini, yang pengaruhnya tak dapat kami hindari; segala prasangka yang masih lekat pada kami dan menghambat kemajuan kami akan kami bebaskan, agar jiwa kami menjadi segar dan bebas, agar makin lebarlah sayap yang dikepakkan, demi kebaikan usaha yang kami lakukan.
                Itulah sebabnya kami harus tinggal di lingkungan lain negeri asing dengan kebiasaan dan adatnya serta keadaan-keadaan yang lain. Kami harapkan Eropa dapat memberikan kepada kami persiapan-persiapan yang lebih baik, memberikan kepada kami kelengkapan untuk menggarap tugas kami yang akan kami tunaikan; bahwa ia akan memperdaya kami, dan menziarahi kami terhadap anak panah-anak panah berbisa yang bakal dilepaskan orang-orang sebangsa kami kepada kami, karena kami lebih tabah daripada mereka.
                Eropa pasti akan ajarkan kami untuk jadi bebas sesungguhnya.

Semula tulisan ini akan saya unggah pas di bulan kelahiran RA Kartini  ̶ bulan lalu. Tetapi karena stagnasi, jadi baru bisa diunggah sekarang  ̶ bulan ramadhan.

“Kami hendak bebaskan diri  kami sama sekali dari ikatan-ikatan yang melekat adat kuno kami...”
Adat kuno pada masa itu, seperti gadis bangsawan tidak boleh keluar istana/karesidenan/ kadipaten tanpa pengawalan, tidak boleh bergaul dengan rakyat biasa, tidak dibenarkan berpendidikan tinggi, pada akhirnya hanya akan menemui masa pingitan, menikah, dan mengurus kehidupan rumah tangga.

“... yang mau lekat saja ini, yang pengaruhnya tak dapat kami hindari;...”
Memang adat melekat sejak pertamakali ia lahir, sebagai putri dari seorang bupati. Dikisahkan dalam buku ini, begitu banyak tulisan-tulisan kartini dalam bahasa Belanda yang kemudian hanya ia simpan. Satu saja kesalahan maka dampaknya bukan hanya terhadap dirinya, tetapi juga pada ayahanda terkasih. Mungkin juga rakyatnya.

segala prasangka yang masih lekat pada kami dan menghambat kemajuan kami akan kami bebaskan, agar jiwa kami menjadi segar dan bebas, agar makin lebarlah sayap yang dikepakkan, demi kebaikan usaha yang kami lakukan.

Mari kita cermati bersama “Itulah sebabnya kami harus tinggal di lingkungan lain negeri asing dengan kebiasaan dan adatnya serta keadaan-keadaan yang lain.”

Ada peribahasa Jawa “Desa mawa cara, negara mawa tata.” Setiap daerah memiliki adat dan kebiasaan masing-masing. Di dalamnya menimbulkan situasi tertentu yang mengharuskan penduduknya untuk menjadi nyaman dengannya.

Sampai hari ini, saya belum pernah menjalani kehidupan sebenarnya di negeri asing, hanya dari katanya. Tapi, hari ini saya benar mengalami hidup di kota orang. Sejarak Jogja-Samarinda. Satu hal baru yang saya dapat selama 2 minggu tinggal di Samarinda adalah pemaknaan kata turun. Di Jogja umumnya turun itu menggambarkan fluktuasi ke angka kecil, berhenti atau beralih naik kendaraan, perolehan sesuatu (beasiswa, sembako), juga lengser jabatan.

Tanggal 27 Mei, mereka harus sudah turun,” kata Kepala TU sekolah. Saya mulai berpikir-pikir, mencari tau apa makna turun dari pernyataan ini. Setelah berhari-hari ternyata turun di sini juga dimaknai terjun (masuk sekolah).

Setelah itu saya bertanya-tanya lantas saya harus bilang apa ke tukang ojek, “Pak, saya turun di sini saja.” Apa turunnya juga akan dimaknai sama. Tidak, tukang ojek tidak sesaklek itu.

Ini hanya satu kosa kata, belum yang lainnya. Benar bahwa di lingkungan lain negeri asing  kebiasaan dan adatnya serta keadaan-keadaan juga lain. Seluas alam semesta ini Tuhan memberi kesempatan kepada manusia untuk belajar saling mengerti, bertoleransi. Sebanyak umat di dunia ini Tuhan ciptakan untuk saling mengenal dan mengamini kebesaranNya.


Continue reading BELAJAR DARI PUTRI JEPARA

Sunday, March 31, 2019

PEMBERKASAN CPNS KEMENAG


PEMBERKASAN CPNS KEMENAG 

Alhamdulillah, ada kesempatan untuk sharing lagi tentang proses penerimaan CPNS. Kali ini tentang proses pemberkasan. Setelah menunggu pengumuman, dan menjawab pertanyaan netizen “kapan pengumuman?”. Sebelumnya sudah saya share yakni, seleksi administrasi, tes SKD, dan tes SKB. Bagi yang belum baca bisa langsung klik linknya. Surat pengumuman peserta lolos SKB dirilis melalui akun Telegram Kementerian Agama RI pada 15 Januari lalu. Beberapa hari berselang dirilis panduan pemberkasan beserta jadwal pemberkasan oleh masing-masing Kantor Wilayah Kemenag daerah, dalam hal ini Kanwil Kemenag Kalimantan Timur. Bisa klik link ini untuk melihat panduan pemberkasannya.


Selama masa penantian pengumunan peserta yang lolos SKB dan berhak mengikuti pemberkasan ini ada satu kejadian yang waktu itu membuat seluruh peserta geger, sangat ramai, di medsos seperti Twitter dan grup Telegram/Whatsapp. Beberapa instansi sudah mengeluarkan pengumumannya, sementara kemenag belum. Pada saat itu untuk memudahkan pemberkasan BKN memberikan kemudahan dengan memberikan link perbaikan DRH (daftar riwayat hidup) bagi mereka yang lolos SKB. Karena penasaran, banyak dari peserta CPNS Kemenag pun ikut ngecek.


Pic: twitter @BKNgoid

Alhasil, ada yang di dalam akunnya terdapat link DRH dan ada yang tidak. Muncullah berbagai spekulasi dengan argumen masing-masing peserta. Yang paling menyeruak adalah, bagi yang muncul link DRH maka lolos ke pemberkasan, begitu sebaliknya. Namun, hal ini tidak berlangsung lama karena sehari berselang setelah kegegeran link tersebut dihidden oleh pihak berwajib. (tetep bisa di cek ada aja caranya 😎)


Pic: doc pribadi

Setelah pengumuman diterima, tentunya banyak berkas yang harus disiapkan. Butuh waktu, apalagi legalisir ijazah dari SD-S1 (jika diminta legalisir semuanya). Ada baiknya permasalahan seperti KTP, nama/tanggal lahir yang tidak sesuai antara ijazah dan KTP, diurus jauh-jauh hari. Berkas yang diperlukan diantaranya yakni,

Pasfoto berwarna terbaru ukuran 4 x 6 cm sebanyak 5 (lima) lembar;
Fotokopi KTP;
Fotokopi ijazah/STTB terakhir dan Transkrip Nilai;
Daftar Riwayat Hidup bermaterai Rp. 6.000,-;
Surat pernyataan bermaterai Rp. 6.000,-;
Surat Keterangan Catatan Kepolisian (SKCK);
Surat keterangan sehat jasmani dan rohani;
Surat keterangan bebas narkoba.

Masing-masing instansi memiliki form dan ketentuan yang berbeda mengenai pemberkasan, jadi kalau instansi yang dilamar adalah Kemenag maka ikuti saja apa yang disampaikan oleh Kemenag. Perhatikan secara teliti masing-masing persyaratan. Misalnya, terdapat keterangan bermaterai 6000, maka tempellah materai pada berkas, dengan materai 6000 jangan yang lain. Kemudian, keterangan legalisir, maka perhatikan betul legalisir (surat tersebut menjadi legal) dengan tanda tangan pihak berwenang, stempel instansi, nomor legalisir, tanggal legalisir dan sebagainya jangan sampai ada yang terlewat. Saya ingat betul karena pada seleksi administrasi ada teman dari kemenag Riau yang bercerita bahwa tanpa nomor dan tanggal legalisir dapat menggagalkan seleksi. Yang membedakan pada proses pemberkasan ini dengan seleksi administrasi adalah pihak BKN bekerjasama dengan instansi akan menghubungi peserta CPNS yang berkasnya dianggap tidak lengkap (BTL/Berkas Tidak Lengkap) sehingga dapat mengganti atau memperbaiki berkas tersebut. Klik link ini untuk cek kasus BTL CPNS Kemenag.

Terimakasih sudah baca, dan terimakasih untuk tidak tanya “penempatan dimana?”, “kapan penempatannya?” sementara saya pun belum tahu 😅.
Salam semangat.

Continue reading PEMBERKASAN CPNS KEMENAG

Friday, February 8, 2019

TIPS MENANGANI KUKU KAKI CANTENGAN


TIPS MENANGANI KUKU KAKI CANTENGAN

Siapa yang pernah ngalamin ini? Pasti banyak ya, milenial juga ngga lepas dari cantengan. Saya juga. Kuku kaki dapat mengalami cantengan karena berbagai hal. Misalnya, pemakaian kaos kaki dan sepatu yang kekecilan. Dipaksakan. Apalagi kalian yang suka pakai sepatu hak tinggi dan runcing bagian depan.

Kalau selama ini khilaf dalam merawat kuku kaki, sebaiknya segera insyaf ya. Cantengan bisa dihindari dengan merawat kuku kaki secara rutin. Memotong dan membersihkan kuku secara berkala. Juga menjaga kelembaban kuku dan kulit jari-jari kaki. Kalau nggak mau repot, ya tinggal ke salon/tempat perawatan kecantikan minta pedicure. Biar mbaknya aja yang menikmati keharumannya. Ingetin mbaknya buat make masker ya ✌.

Cantengan itu sangat menyiksa. Buat berdiri nahan badan sakit. Jalan pun demikian. Apalagi pas lagi cantengan kepatunya keinjek temen. Atau pas lagi cantengan kepentok kaki meja/kursi, aaww banget kan.

Berdasarkan pengalaman pribadi di postingan kali ini saya mau berbagi tips, cara yang saya pakai untuk mengatasi cantengan. Cantengan yang saya alami ini karena kebiasaan saya memotong kuku kaki terlalu pendek alias sampai mentok. Jadi, ketika kukunya sudah tumbuh lagi nyundul kulit depannya.

Tips Pertama
Tips ini saya dapat dari youtube chanel Dokter Oz. Pastikan kuku yang mau ditreatment sudah dibersihkan. Alat dan bahan yang dibutuhkan gampang banget, yaitu kapas, gel aloevera, dan pinset.
Siapkan selembar kapas. Olesi kapas dengan gel aloevera. Selain untuk melembabkan juga untuk membuat kapas itu nantinya kalau dilepas tidak nyangkut di kuku. Selipkan kapas di sela kuku dengan bantuan pinset.

Dok. pribadi
Diamkan selama semalaman. Saya jamin rasanya senut-senut. Lakukan secara berulang sampai tidak sakit lagi. Kalau saya 3 kali cukup lah, sampai kuku sedikit memanjang.

Dok. pribadi

Dok. pribadi

Tips kedua
Tips ini biasa dilakukan oleh tenaga profesional. Biasanya penyebabnya adalah kuku yang tumbuhnya menyamping/terlalu kedalam atau cantengan yang sudah parah banget. Sudah tidak bisa lagi diatasi dengan diganjelin kapas.

Langkah pertama adalah dengan memotong sedikit ujung kuku.

Dok. youtube

Kemudian melalui ujung yang dipotong tersebut dikikis sampai ke pangkal kuku menggunakan alat khusus, yang dipastikan tajam dan steril. Hal ini dimaksudkan agar kuku yang tumbuh tersebut dapat diambil. Dan mengakhiri penderitaan.

Dok. Youtube

Dok. youtube


Setelah kuku yang tumbuh menyamping itu diambil kemudian jarinya dibersihkan (saya tidak tahu mungkin menggunakan semacam sterilizer, cairan untuk membantu menghentikan pendarahan dan mengeringkan luka). Kemudian dibalut dengan kasa hingga lukanya sembuh.

Dok. youtube

Dok. youtube

Nah inilah tips yang dapat saya bagikan, semoga dapat membantu teman-teman yang mengalami cantengan untuk sembuh.


Continue reading TIPS MENANGANI KUKU KAKI CANTENGAN