Monday, August 31, 2020

,

SEKOLAH ONLINE, SUDAH LDR SALAH PAHAM PULA

 

Hiruk pikuk penerimaan peserta didik baru sudah berlalu. Segala penyesuaian, pengaduan, kepasrahan, atas dampak pandemi COVID-19 yang telah kita telan hingga muntah, membuat diri merasa sudah begitu muak. Astaghfirullahalazim. Pembelajaran daring tahun ajaran baru sudah dimulai pada pertengahan bulan Juli lalu. Satu setengah bulan yang begitu menarik untuk saya ceritakan. Mulai menjadi wali kelas online, yang mana anaknya belum pernah ketemu. Hingga lembur sampai pagi bikin konten pembelajaran, setelah di-upload ternyata tidak begitu menarik perhatian anak.

Kegelisahan yang begitu mengganggu dan membuat tidur tidak nyenyak. Inilah bentuk refleksi diri yang saya tuangkan, kekhawatiran mendalam dari lubuk hati yang saya tuliskan. Sebagai seorang guru pemula, yang baru saja mengajar, 1 tahun ajaran (tanpa pengalaman mengajar sebelumnya) rasanya masih belum cukup membuat saya percaya diri dengan pasti untuk mengenali lingkungan sekolah, suasana kerja, apalagi karakteristik peserta didik.

Lingkungan sekolah, dalam satu hari sudah pasti tau dimana letak toilet, paling urgen. Dua, tiga hari sampai satu bulan, cukup tahu dimana anak nongkrong kalau sudah masuk jam pelajaran tapi anak belum ada di kelas, yang mana kakak OSIS paling digandrungi, sampai ke cerita horror di sudut-sudut ruang. Jika ini ujian, mengenal lingkungan sekolah mungkin skor tertinggi yang saya dapatkan.

Suasana kerja, yang perlu saya syukuri adalah, sebelumnya saya pernah bekerja, pada sebuah perusahaan. Tahu bagaimana rasanya dikejar dedline. Tetapi, yang cukup terasa beda adalah, pertama, saya sering membawa pulang kerjaan, entah koreksian, entah laporan, sampai ditelfon orang tua nanyain anaknya dimana.  Dimanakah letak salahnya? Apakah pekerjaan yang saya lakukan tidak effisien, sampai begitu boros waktu. Mungkin saya belum menemukan saja rumusan yang paling gampang. Kedua, segala bentuk tutur kata, perilaku, sikap, bahkan pakaian, menjadi perhatian semua orang, baik teman sejawat maupun, utamanya, adalah anak-anak. Mana bisa bilang anjay, terkutuklah seketika itu. Mengenakan kerudung panjang pun dinilai kurang pas, karena sekolah, bukan majelis taklim. Raut wajah pun tak luput. Ada hikmah pula rupanya work from home, karena muka saya bukan tipe muka smile, memaksa diri untuk smile itu lelah. Di rumah bisa bekerja dengan bentuk muka suka-suka. Terlalu banyak bicara atau terlalu banyak diam juga tidak baik, teorinya. Tetapi, saya lebih suka diam dan mendengarkan, itung-itung tidak nambah dosa. Alhamdulilahnya, saya punya senior yang begitu luar biasa. Ngemong, menasehati, mengayomi, dan selalu memberikan saran terbaik. Bagaimanapun suasana kerjanya, semoga nyala semangat tidak padam oleh halang rintang.

Karakteristik peserta didik, inilah PR yang tidak pernah selesai dikerjakan. Rasanya untuk belajar mengenal orang lain, harusnya diri ini sudah paham dengan pribadi sendiri. Di sinilah selalu dilema itu muncul. Egoisme dan ke-aku-an. Pertama kali menjadi wali kelas, saya begitu senang dengan anak-anak yang antusias meskipun lewat grup wa. Satu bulan berjalan, mungkin ada yang bisa menebak, ya, mereka punya grup wa sendiri. Yang biasa dipakai untuk gibahin mapel pada saat zoom berlangsung, antara curhat kalau ngga paham, ngantuk dan bosen. Lalu grup ini juga biasa dipakai untuk sharing tugas. Kan nggak mungkin ngelakuin ini di grup yang ada wali kelas (online)nya. Apakah semua orang tua tahu tentang ini ya?

Saya menangkap sebuah kesalahpahaman dari kegiatan belajar online ini. Terlepas dari masa pandemi atau bukan. Hal ini saya sadari dari seorang teman, yang menceritakan bahwa jauh hari sebelum pandemic berlangsung, dia berkenalan dengan salah seorang anak home schooling dari luar Indonesia. Semua modul, dan pembelajaran dilakukan secara daring. Hanya ke sekolah beberapa kali dalam satu semester untuk menempuh ujian. Terbiasa mengelola kebutuhan belajar sendiri, mata pelajaran apa yang harus ditempuh, berapa nilai yang diperoleh, sumber mana yang bisa dipakai untuk belajar, dan kapan waktunya belajar. Komitmen dan kesadaran diri pada diri pribadinya untuk menyelesaikan jenjang pendidikan, DENGAN BAIK.  

Lalu dimana letak kesalahpahamannya? Saat ini banyak anggapan bahwa sekolah daring ini isinya tugas. Ini yang menarik. Saya akan analogikan dengan orang dan segelas minuman.  Bagaimana kita tahu orang telah meminum air dalam gelas? Mungkin dari melihat dia minum, mendengar dia meneguk air, melihat bibirnya basah, melihat air dalam gelas yang berkurang, atau letak gelas bergeser. Ada tanda-tanda yang bisa dilihat.

Saya tidak pungkiri bahwa saya sendiripun ketika sekolah daring ini di mulai sekitar akhir bulan Maret 2020, saya harus menempuh beragam cara untuk menyesuaikan diri. Namun saya sadari komunikasi 2 arah sangat diperlukan, dalam hal ini. Inilah mengapa banyak pasangan LDR gagal. Karena tidak ada komunikasi 2 arah.

Apa hubunganya dengan pembelajaran daring. Sebagai guru, sebisa mungkin saya menyiapkan materi dengan baik, Alhamdulillah saya di kota jadi kendala jaringan minim. Bagaimana saya tahu anak belajar, memahami materi yang saya sampaikan, saya membuka konsultasi melalui chat, dan memberikan latihan soal yang kemudian diposting pada platform digital sekolah. Selain itu, saya menggunakan Youtube untuk mempermudah penyampaian materi. Hal mengejutkan yang saya terima adalah, pada saat saya memberikan latihan rata-rata klik lebih banyak. Saya tunjukkan 2 pertemuan terakhir berikut ini.

Ini adalah hasil tangkapan layar dari platform digital sekolah yang saya gunakan. Dengan mencantumkan latihan soal.

Dan ini adalah hasil tangkapan layar dari analisis youtube studio saya. Durasi Video yang saya unggah adalah 18 menit, dari analisis, rata-rata tonton adalah 4 menit 19 detik. Bisa dihitung jika sekali skip 10 detik maka berapa kali skip mereka tekan sampai video ini habis, atau 4 menit lalu sudah tutup, karena dianggap sudah nonton maka sudah gugur kewajiban. Melihat ini saya cukup anggukkan kepala. Kemudian, asumsikan bahwa semua view ini adalah seluruh peserta didik, dari total 200 sekian total viewnya 172, anggaplah sisanya tidak ada kuota.

Lalu, saya akan tunjukkan pekan terakhir bulan ini di hari Sabtu lalu. Inilah hasil tangkapan layar dari platform digital sekolah yang saya gunakan. Tanpa ada latihan soal.

Kira-kira akan semangat menonton karena tidak ada latihan soal, atau bakal bilang. “Yes bebas. Nggak ada tugas.” Dan ini adalah hasil tangkapan layar dari analisis youtube studio saya. Durasi Video yang saya unggah adalah 9 menit 36, dari analisis, rata-rata tonton adalah 3 menit 50 detik. Kemudian, asumsikan bahwa semua view ini adalah seluruh peserta didik, dari total 200 sekian total viewnya 40, anggaplah sisanya belajar melalui media lain. Bagaimana saya bisa percaya? Kecuali kepada Allah, yang MahaKuasa Atas segala yang di langit dan di bumi.

Mungkin analisis diatas tidak sepenuhnya dapat dipakai sebagai dasar. Saya pun bingung untuk menyimpulkan. Apakah ini artinya harus ada tugas baru anak belajar? Atau bagaimana? Tetapi setidaknya bagi saya pribadi saya bersyukur dan berterimakasih pada Youtub Studio, dari analisis ini saya menyadari, apa yang saya usahakan belum tentu menjadi wujud keberhasilan. Saya tidak ingin kesalahpahaman ini berbuntut Panjang. Saya tidak ingin kebiasaan hanya belajar ketika ada tugas ini berlanjut sampai menjadi karakter anak hanya melakukan sesuatu ketika disuruh atau ketika ada imbalannya. Tidak bisa membuat komitmen, bahkan terhadap diri sendiri, tidak sadar akan kebutuhan, bahkan untuk hidupnya sendiri. Orang yang tidak tau kapan dia haus, kapan harus minum, apa yang harus dia minum, dan baru sadar ketika radang mulai memenuhi tenggorokannya. Atau bahkan ketika ginjalnya bermasalah. Maka sudah terlambat.

Bagaimana kita memperbaiki kesalahpahaman ini? Dengan berhenti menganggap sekolah daring adalah tugas. Dengan menyadarkan diri bahwa belajar adalah kebutuhan. Belajar adalah kewajiban setiap umat.  Keterbukaan, kesadaran diri, komitmen, dan komunikasi yang baik akan membantu meluluskan hubungan LDR ini. Semoga pandemi segera berakhir. Aamiin.

Continue reading SEKOLAH ONLINE, SUDAH LDR SALAH PAHAM PULA